Laman

Jumat, 27 Juli 2012

Cara Mengelola Keuangan Dalam Rumah Tangga Islami


Menjadi istri yang pandai mengelola keuangan keluarga? Hm,,, siapa yang tidak mau. Setiap istri pasti menginginkan menjadi pribadi yang pandai mengelola keuangan keluarga. Kenapa seorang istri yang menjadi bahasan? Inilah jawabannya.
Ibu rumah tangga merupakan sosok penting sebagai pengelola keuangan keluarga. Namun selain itu, bukan rahasia umum lagi jika perempuan memang senang untuk berbelanja. Pernahkah Anda merasakan suasana dilematis antara keinginan berbelanja dan memenuhi kebutuhan keluarga? Jika hal itu memang terjadi, bersyukurlah karena Anda akan menjadi istri dambaan suami jika dan hanya jika mampu mengelola keuangan keluarga dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan pribadi juga. Dalam mengelola keuangan keluarga, setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan guna terpenuhinya keseimbangan pemasukan dan pengeluaran.
mengapa mereka harus berhutang.
Sangat disayangkan apabila orang berhutang karena alasan yang tidak jelas seperti karena perilaku boros, ikut-ikutan mengikuti tren dan gaya hidup dan sebagainya. Berkaitan dengan hidup boros, kita sebaiknya memperhatikan sinyalemen dari Allah SWT pada QS 17: 26, 27[15].

Allah SWT lebih menyukai muslim yang hidup sederhana dibandingkan yang berlebih-lebihan atau boros. Hidup sederhana akan mencegah orang untuk berhutang. Hutang akan menjadikan seorang muslim kesusahan di malam hari dan merasa terhina di siang hari. Kita sering melihat perilaku yang muncul pada diri orang yang banyak berhutang. Diantaranya merasa malu atau minder yang menyebabkan dia sering menghindar bertemu dengan orang lain. Terutama dengan orang yang memberi hutang kepadanya. Sering merasa tidak percaya diri. Bila dia menjadi seorang pekerja maka terkadang dia menjadi sering tidak masuk bekerja. Hutang juga dapat mendekatkan diri pada kekufuran. Rasulullah SAW menyatakan hal tersebut pada sabdanya:
“Aku berlindung diri kepada Allah dari kekufuran dan hutang. Kemudian ada seorang laki-laki bertanya: Apakah engkau menyamakan kufur dengan hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Ya!” (Riwayat Nasa’i dan Hakim)
Hutang juga dapat menyebabkan seseorang berkata tidak jujur. Apabila berkata, suka berdusta. Demikian yang dikatakan Nabi Muhammad SAW:
“Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi.” (Riwayat Bukhari)
Oleh karenanya Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa untuk terhindar dari hutang.
“Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadamu dari terlanda hutang dan dalam kekuasaan orang lain.” (RiwayatAbu Daud)
Kita juga harus berhati-hati terhadap hutang karena Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan tidak tercapainya tujuan akhir kita yaitu kebahagian hidup di akhirat dengan sabdanya:
“Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya melainkan hutang.” (Riwayat Muslim)
Oleh karenanya hutang harus segera dibayar sebelum kita meninggal. Sangat perlu diperhatikan bagi satu keluarga, apabila seorang istri atau suami berhutang kepada orang lain maka dia harus memberitahukan tentang hutangnya kepada pasangannya tersebut. Tujuannya adalah agar apabila salah satu dari keduanya meninggal sebelum sempat melunasi hutang maka pasangannya dapat melunasi hutang tersebut.
Bila terpaksa harus berhutang Rasulullah SAW mengajarkan kita meniatkan untuk melunasinya sesegera mungkin.
“Barangsiapa hutang uang kepada orang lain dan berniat akan mengembalikannya, maka Allah akan luluskan niatnya itu; tetapi barangsiapa mengambilnya dengan Niat akan membinasakan (tidak membayar), maka Allah akan merusakkan dia.” (Riwayat Bukhari).
- Biaya rutin adalah biaya yang harus dikeluarkan secara rutin. Dipandang dari waktu pengeluarannya, pengeluaran rutin dapat dikelompokan dalam 3 katagori [16] yaitu pengeluaran harian, bulanan dan tahunan.
Pengeluaran harian adalah pengeluaran yang secara rutin dikeluarkan oleh kita sehari-hari. Termasuk dalam kelompok pengeluaran ini adalah biaya untuk belanja kebutuhan dapur dsbnya. Bagi sebagian kalangan lainnya pengeluaran di atas terkadang masuk ke dalam kelompok pengeluaran rutin mingguan dan ada juga yang bulanan.
Pengeluaran mingguan dikeluarkan akibat adanya transaksi mingguan. Kegiatan tersebut diantaranya pemakaian gas untuk memasak dan belanja air mineral. Berbelanja kebutuhan pokok, bagi sebagian kalangan juga menjadi kebutuhan mingguan.
Pengeluaran bulanan adalah pengeluaran yang dikeluarkan secara rutin setiap bulannya. Oleh karena sebagian besar dari kita adalah pekerja yang sumber pendapatannya berasal dari gaji bulanan maka kebutuhannyapun sebagian besar adalah kebutuhan bulanan. Termasuk dalam kebutuhan ini adalah pembayaran listrik, telepon, SPP sekolah, cicilan rumah, cicilan motor, cicilan mobil, biaya antar jemput anak, kontrak rumah bulanan dll.
Pengeluaran tahunan adalah pengeluaran yang secara rutin dikeluarkan setiap tahunnya. Biasanya jenis pengeluaran ini menyita banyak perhatian keluarga oleh karena jumlahnya terkadang sangat besar dan waktunya yang hampir bersamaan. Membeli perlengkapan sekolah seperti buku pelajaran, baju seragam, sepatu dan sejenisnya adalah pengeluaran tahunan yang sering menjadi momok bagi ibu rumah tangga. Membayar kontrakan rumah, pajak motor, pajak mobil juga pajak rumah dilakukan setiap tahun.
- Zakat 2,5% dari hasil penghasilan yang telah sampai nisab nya yaitu bila total penghasilan dalam setahun melebihi nisab 85 gram emas.
- Biaya Antisipatip Hidup di dunia penuh dengan ketidak pastian. Tidak ada seorangpun yang dapat memperkirakan dengan pasti, apa yang akan terjadi pada dirinya di esok hari. Diapun tidak dapat mengetahui hasil dari yang diusahakannya hari ini.
 Menjaga waktu muda sebelum tua,Menjaga sehat sebelum sakit,Menjaga kaya sebelum miskin,Menjaga hidup sebelum mati.
- Investasi Akhirat
a) Infak - Shadaqoh.
Tiap menjelang pagi hari dua malaikat turun. Yang satu berdoa: “Ya Allah, karuniakanlah bagi orang yang menginfakkan hartanya tambahan peninggalan.” Malaikat yang satu lagi berdoa: “Ya Allah, timpakan kerusakan (kemusnahan) bagi harta yang ditahannya (dibakhilkannya).” (Mutafaq’alaih)
b) Haji
Haji berarti sengaja melakukan sesuatu, yaitu sengaja datang ke Mekah, mengunjungi Ka’bah dan tempat-tempat lainnya untuk melakukan rangkaian ibadah tertentu, seperti wukuf, thawaf, sa’i dan amalan lainnya pada masa tertentu dengan syarat - syarat tertentu. Ibadah haji adalah ibadah fardhu bagi umat islam.
           c) Qurban
 Menyembelih hewan qurban juga merupakan tanda syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT
d) Wakaf
Wakaf yang dikenal oleh masyarakat Indonesia pada umumnya merupakan pengalokasian barang tidak bergerak terutama tanah untuk dijadikan mushola, masjid, pekuburan muslim dsbnya. Padahal di Negara-negara Arab praktek wakaf juga dapat melibatkan dana tunai yang berbentuk wakaf tunai. 
 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS 4: 29)
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS 16: 114)
Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan. (HR. Ahmad)

 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertama, kenali dengan baik keadaan keuangan keluarga. Ada baiknya pos-pos pemasukan dan pengeluaran ditulis, sehingga akan terlihat keperluan apa saja yang harus dipenuhi pada setiap bulannya. Mengetahui keadaan keluarga sangat penting dilakukan. Dengan landasan ini, hal selanjutnya dapat dilakukan dengan baik.
Kedua, menyusun rencana keuangan bulanan. Setelah mengetahui keadaan keuangan, sebaiknya disusun rencana keuangan untuk satu bulan ke depan. Penyusunan ini bisa disusun secara realistis. Tidak ada salahnya, untuk memasukan anggaran bertamsya dengan keluarga atau memenuhi kebutuhan tersier lainnya. Sebagai  muslim, sebaiknya menganggarkan terlebih dahulu untuk bershodaqah, selanjutnya kebutuhan investasi, tabungan, biaya rutin bulanan, konsumsi dan biaya lain-lain.
Ketiga, meminimalkan belanja konsumtif. Belanja konsumtif seringkali menjadi virus dari rencana keuangan yang sudah disusun. Pengeluarannya acapkali tidak terlalu besar, namun karena tidak besar itulah kita terlena dan seenaknya  mengeluarkan anggaran. Khusus bagi kalangan ibu-ibu rumah tangga ini menjadi tantangan tersendiri untuk bisa mengatur keuangan sebijak dan sebaik mungkin. Jika direncanakan secara realistis dan dilakukan dalam waktu yang tepat, berbelanja tidak ada salahnya. Selama tidak merugikan dan mengurangi kepentingan lainnya.
Keempat, kenali dengan baik antara keinginan dan kebutuhan. Kebutuhan adalah segala sesatu yang jika tidak dipenuhi maka akan menimbulkan dampak madharat bagi kita. Contoh sederhana begini. Seorang lelaki  merasa kehausan di tengah cuaca yang sangat terik. Jika ia tidak minum, dapat dipastikan akan pingsan. Pada saat itu, minum merupakan hal wajib dan menjadi kebutuhan untuk dirinya. Jika tidak, bisa jadi ia sakit atau mengalami hal lainnya yang tidak diinginkan. Begitupun dalam pengelolaan keuangan. Jika bisa mengidentifiaksi dengan baik antara kebutuhan dan keinginan seraya disertai dengan keteguhan hati mengikuti rencana keuangan yang telah disusun, maka keuangan keluarga pun akan terjamin kelangsungannya.
Kelima, menabung. Kebiasaan menabung bukan hanya bagi anak-anak SD rupanya. Bagi pasangan keluarga pun, anggaran tabungan tetap ditekankan. Anggaran untuk menabung sebaiknya tidak diporsikan diakhir akan tetapi di awal sebelum pengeluaran untuk konsumsi. Hal ini dilakukan untuk melatih diri bahwa tabungan merupakan sesuatu yang sangat penting dan harus diutamakan.
Keenam, berinvestasi. Tidak ada salahnya jika anggaran keuangan keluarga disisihkan untuk berinestasi. Jika menabung lebih bersifat preventif dari keaadaan yang tidak diinginkan, investasi adalah tindakan positiv untuk menambah aset dan pemasukan keluarga. Dengan berinvestasi, pendapatan pun akan meningkat. Investasi bisa dilakukan di pasar uang seperti forex, pasar modal seperti saham, obligasi, reksa dana dan sebagainya bahkan di pasar riil sekalipun.
Ketujuh, ikuti program asuransi. Asuransi merupakan produk keuangan yang bersifat penanggulangan terhadap suatu kejadian yang tidak diinginkan. Salah satu asuransi penting yang bisa diikuti adalah asuransi pendidikan bagi anak. Tidak ada yang tahu masa depan seperti apa, dengan adanya asuransi setidaknya pendidikan anak cukup terjamin seandainya terjadi sesuatu dengan anaknya. Asuransi lain yang penting adalah asuransi kesehatan.
Mengelola keuangan memang tidak hanya melulu soal penyusunan anggaran dan pengeluaran. Jika tidak ditaati, apa yang sudah dituliskan akan menjadi sia-sia dan hanya sebagai macan kertas yang tidak berarti apa-apa. So, konsistensi dan kepatuhan kita pada apa yang telah ditulis mutlak untuk dilakukan.

Perencanaan keuangan adalah bagian penting dalam hidup, tapi kadang uang bukan hanya sekedar uang. Kadang masalahnya ada tentang kekuasaan.

Kekuasaan mengatur uang dan membelanjakan uang sesuai dengan keinginan masing-masing. Setiap orang punya gaya yang berbeda dalam membelanjakan uangnya. Hal itu biasanya diwariskan dari didikan orang tua atau keluarga masing-masing.

Untuk Itu Perlu adanya langkah-langkah untuk mengelola keungan bersama pasangan. Hal ini juga bisa menghindari perselisihan. Berikut langkah-langkahnya!

1. Ingat-ingat bagaimana Anda diajarkan untuk mengatur uang, lalu pelajari juga cara pasangan Anda. Bersama, Anda pilih beberapa cara yang terbaik. Hal ini bisa menimbulkan perasaan dihargai pada pasangan Anda.

2. Jika penghasilan Anda tidak lebih besar dari pasangan Anda, sebaiknya Anda jangan terlalu sibuk mengatur. Hargai kontribusi dari pasangan Anda. Jangan maunya mengatur sendiri, bicarakan semuanya bersama karena setelah menikah tak ada lagi 'Aku' atau 'Kamu'.

3. Berikah pos-pos khusus pengeluaran yang bisa diatur sendiri oleh pasangan Anda. Misalnya untuk benda-benda pribadi atau belanja.

4. Jika masalah keuangan tiba-tiba menjadi masalah besar dalam beberapa bulan ini, coba pikirkan, apa yang sebenarnya terjadi. Apakah terjadi pergeseran kekuasaan dalam rumah tangga Anda. Pelajari hal-hal apa saja yang bisa memicu masalah ini.
Semoga tulisan ini bermanfaat, Amin.....

Sumber: 
(sydh/MI) (ekonomi.kompasiana.com/mengelola-keuangan-keluarga)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar